Tag: OpenAI

  • ChatGPT 2025: Evolusi Sang Chatbot AI yang Menggemparkan Dunia

    ChatGPT 2025: Evolusi Sang Chatbot AI yang Menggemparkan Dunia

    Sejak pertama kali diluncurkan pada November 2022, ChatGPT chatbot cerdas buatan OpenAI telah menjelma dari sekadar alat bantu menulis jadi ikon revolusi AI global. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, ChatGPT sudah digunakan oleh lebih dari 400 juta orang tiap minggu. Tapi, apa yang bikin ChatGPT 2025 begitu spesial?

    Yuk kita kulik evolusinya!

    2024: Tahun Gebrakan dan Drama

    Tahun 2024 jadi titik balik penting bagi OpenAI. Mulai dari:

    • Kolaborasi strategis dengan Apple lewat fitur “Apple Intelligence”
    • Peluncuran model GPT-4o yang bisa bicara dan menghasilkan gambar
    • Debut dari Sora, AI yang bisa bikin video dari teks

    Namun, tahun ini juga penuh turbulensi:

    • Mundurnya tokoh penting seperti Ilya Sutskever dan CTO Mira Murati
    • Gugatan hukum dari media besar soal pelanggaran hak cipta
    • Elon Musk menggugat OpenAI agar berhenti jadi perusahaan profit

    Di balik semua drama itu, OpenAI tetap tancap gas.

    ChatGPT 2025: Apa Saja yang Baru?

    1. Model AI Teranyar: GPT-4.1 dan o3/o4 Mini

    OpenAI meluncurkan model baru seperti GPT-4.1, o3, dan o4-mini.

    Fitur unggulannya?

    • Reasoning model yang makin cerdas, bisa browsing, coding, sampai bikin gambar
    • Model Flex Processing buat tugas ringan dengan biaya lebih murah
    • Sayangnya, masih rentan halusinasi alias informasi ngaco

    2. Fitur Sosial Media: ChatGPT Bakal Jadi Platform Sendiri?

    OpenAI kabarnya sedang mengembangkan media sosial tandingan. Apakah ini akan jadi “Instagram versi AI”? Belum jelas, tapi arahannya bikin penasaran.

    3. Fitur Baru: Image Library & Voice Assistant

    • Ada tab baru bernama “Library” untuk mengakses gambar-gambar AI buatan sendiri
    • Voice assistant makin natural, bisa ngobrol real-time tanpa banyak interupsi

    4. Personalisasi Karakter ChatGPT

    Sekarang kamu bisa atur kepribadian ChatGPT kamu:

    Mau yang gen Z, cerewet, atau suportif? Tinggal pilih.

    5. Langganan Plus Gratis untuk Mahasiswa

    OpenAI kasih akses ChatGPT Plus gratis untuk mahasiswa di AS dan Kanada. Peluang emas buat generasi pelajar Gen Z!

    Makin Canggih, Makin Kontroversial

    Dengan popularitas ChatGPT yang terus meroket, tantangan pun ikut membesar:

    • Masalah privasi dan fitnah: ChatGPT pernah menuduh orang melakukan kejahatan yang tidak mereka lakukan.
    • Tuduhan plagiat dan pelanggaran hak cipta: Terutama setelah viralnya gambar-gambar ala Studio Ghibli buatan AI.
    • Tekanan dari regulator Eropa dan persaingan dari Tiongkok seperti DeepSeek.

    ChatGPT FAQs 2025: Jawaban Cepat Buat Kamu yang Masih Bingung

    Apa itu ChatGPT? Chatbot AI berbasis GPT-4 yang bisa bantu kamu nulis, ngoding, dan cari info.

    Gratis atau bayar? Ada versi gratis dan berbayar (ChatGPT Plus). Versi Plus punya fitur dan model lebih canggih.

    Versi terbaru? Saat ini GPT-4o jadi model default. Tapi GPT-4.1 dan o3 lagi naik daun.

    Bisa bikin gambar? Yes! ChatGPT sekarang bisa bikin gambar, edit foto, bahkan bikin video lewat Sora.

    Ada aplikasinya? Ada! Bisa diakses lewat web, iOS, dan Android.

    Apakah ChatGPT itu chatbot biasa? Nggak. Ini chatbot canggih yang pakai machine learning dan bisa terus belajar.

    Kesimpulan: Apa Artinya Semua Ini Buat Kamu?

    ChatGPT 2025 bukan sekadar chatbot dia jadi alat bantu belajar, kerja, hiburan, bahkan kreativitas. Tapi, kita juga perlu bijak dan kritis dalam menggunakannya.

    Apakah ini masa depan teknologi? Bisa jadi.

    Apakah kita siap hidup berdampingan dengan AI yang makin pintar? Jawabannya ada di tangan kita sendiri.

  • Model AI Reasoning Terbaru OpenAI Justru Makin Sering Halusinasi

    Model AI Reasoning Terbaru OpenAI Justru Makin Sering Halusinasi

    OpenAI Punya Model AI Baru, Tapi Masih Sering “Ngaco”

    OpenAI baru saja meluncurkan model AI terbarunya: o3 dan o4-mini, yang diklaim sebagai model “reasoning” tercanggih sejauh ini. Tapi ada satu masalah besar: model ini justru lebih sering halusinasi dibanding generasi sebelumnya.

    Makin Canggih, Tapi Makin Banyak Ngaco?

    Halusinasi di AI adalah saat model “mengarang” informasi yang salah seolah-olah benar. Ini merupakan salah satu tantangan paling sulit dalam pengembangan AI, dan sejauh ini, setiap model baru biasanya membawa peningkatan akurasi.

    Namun hasil uji internal OpenAI menunjukkan hal sebaliknya. Model o3 dan o4-mini ternyata lebih sering halusinasi dibanding model reasoning lama seperti o1, o1-mini, dan o3-mini. Bahkan, mereka juga kalah dari model non-reasoning seperti GPT-4o dalam hal akurasi.

    OpenAI: Kami Belum Tahu Kenapa

    Dalam laporan teknisnya, OpenAI menyebut masih diperlukan riset lebih lanjut untuk memahami alasan mengapa model reasoning terbaru ini makin sering membuat klaim yang tidak akurat. Di satu sisi, o3 dan o4-mini memang unggul dalam tugas seperti pemrograman dan matematika. Tapi karena model ini membuat lebih banyak pernyataan secara keseluruhan, jumlah klaim yang salah juga ikut meningkat.

    Sebagai contoh, dalam uji PersonQA milik OpenAI, yaitu benchmark internal untuk mengevaluasi pengetahuan model tentang individu, o3 halusinasi pada 33% pertanyaan. Ini hampir dua kali lipat dari o1 (16%) dan o3-mini (14,8%). O4-mini mencatat hasil lebih buruk, dengan tingkat halusinasi mencapai 48%.

    Contoh Halusinasi: “Saya Jalankan Kode di MacBook”

    Penelitian dari Transluce, sebuah laboratorium riset AI nonprofit, juga menemukan bahwa o3 suka mengarang proses yang katanya dilakukan untuk menjawab pertanyaan. Dalam satu contoh, o3 mengklaim telah menjalankan kode di MacBook Pro 2021 di luar ChatGPT, lalu menyalin hasilnya ke jawabannya. Padahal kenyataannya, hal itu tidak mungkin dilakukan oleh model ini.

    Neil Chowdhury, peneliti Transluce yang juga mantan pegawai OpenAI, mengatakan bahwa jenis reinforcement learning yang digunakan untuk seri o mungkin justru memperparah masalah yang biasanya dikurangi oleh proses post-training standar.

    Sarah Schwettmann, co-founder Transluce, menambahkan bahwa tingkat halusinasi yang tinggi pada o3 bisa membuatnya kurang bermanfaat dalam aplikasi dunia nyata.

    Cocok untuk Ngoding, Tapi Masih Banyak Bug

    Meski begitu, beberapa pihak tetap menjajal model ini. Kian Katanforoosh, dosen di Stanford dan CEO startup edukasi Workera, mengatakan bahwa timnya sedang menguji o3 dalam alur kerja pemrograman mereka. Hasilnya cukup positif, namun o3 sering menghasilkan tautan situs web palsu. Link yang diberikan tidak dapat diakses atau tidak relevan.

    Solusi: Tambahkan Fitur Pencarian Web?

    Salah satu pendekatan yang menjanjikan untuk mengurangi halusinasi adalah memberi akses pencarian web ke model. Contohnya, GPT-4o versi browsing mampu mencapai akurasi hingga 90% pada benchmark SimpleQA milik OpenAI. Fitur pencarian seperti ini berpotensi meningkatkan keakuratan model reasoning, setidaknya jika pengguna bersedia agar prompt mereka diproses melalui layanan pihak ketiga.

    Namun jika setiap peningkatan kemampuan reasoning justru memperburuk tingkat halusinasi, tantangan ini bisa menjadi masalah besar untuk pengembangan AI ke depan.

    “Mengatasi halusinasi di semua model kami masih menjadi fokus utama dalam riset, dan kami terus bekerja untuk meningkatkan akurasi serta keandalannya,” ujar juru bicara OpenAI, Niko Felix, kepada TechCrunch.

    Kesimpulan: Makin Pintar, Tapi Belum Bisa Diandalkan 100%

    Dalam satu tahun terakhir, industri AI mulai beralih ke pengembangan reasoning model karena teknik pada model tradisional mulai mengalami penurunan efektivitas. Reasoning dianggap bisa meningkatkan performa tanpa perlu pelatihan data dan komputasi yang sangat besar. Tapi kalau efek sampingnya adalah makin banyak informasi palsu, ini jadi trade-off yang harus dicari solusinya segera.

    Source: Tech Crunch